MEUREUDU - Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Pidie Jaya bekerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Aceh, membuat terobosan baru untuk memberantas hama tikus di areal persawahan daerah tersebut.

Terobosan yang mengedepankan cara organik yang justru jauh lebih aman dan bebas dari racun pestisida itu, adalah dengan memelihara predator (pemangsa) tikus. Yakni mengembangkan atau menternakkan burung hantu. Cara ini dianggap lebih aman dan padi juga tak terkontaminasi dengan pestisida tikus atau rodentisida.

Sebelumnya pemberantasan tikus itu dilakukan dengan cara meracun memakai pembasmi jenis rodentisida. Bahkan ada yang lebih berisiko kepada manusia, dengan mengalirkan arus listrik ke sawah, yang berakibat hilangnya nyawa manusia.

Sebagai langkah awal, kata drh Muzakkir Muhammad, Kadistannak Pijay, pihaknya kini melakukan sosialisasi kepada petani pada setiap pertemuan tentang methoda dimaksud. Seperti yang dilakukan Kamis (14/7) di Kelompok Tani Ingin Jaya Gampong Meunasah Lhok Kecamatan Meureudu.

Pertemuan yang digelar di hamparan sawah dihadiri sejumlah pejabat Distan Aceh, petani setempat dan penyuluh pertanian membahas teknis pelaksanaan gropyokan tikus dengan burung hantu.

Pilot Projec kegiatan bersumber dana APBN tahun 2016 itu, dimaksudkan sebagai uji coba dilakukan di empat lokasi yang tersebar di tiga kecamatan. Yaitu , Meureudu meliputi Gampong Meunasah Lhok dan Gampong Pulo U-Beuriweuh. Meurahdua Gampong Dayah Kruet, sementara Kecamatan Ulim dilaksanakan di Gampong Pulo Ulim. Sedangkan burung hantu yang disediakan sebanyak empat pasang dan saat ini ke empat burung hantu dimaksud, kata Muzakkir, sedang dijinakkan pada salah satu lokasi.

Jika burung tersebut sudah jinak (ragoue——red), selanjutnya akan dilepas di empat kawasan dan untuk peneduh dibangun sebuah tempat khusus di hamparan sawah layaknya sangkar merpati atau disebut dengan Rubuha (rumah burung hantu) dengan ketinggian antara 4-5 meter.

Jika metoda pembasmian tikus dengan menggunakan predator burung hantu, dipastikan tanaman padi akan terhindar dari tikus. Pada kegiatan tersebut Distan Aceh membantu, bubu (perangkap), terpal dan peralatan lainnya.

Mahdi, salah seorang penyuluh pertanian di Meureudu menjawab Serambi menyebutkan, ide pemeliharaan burung hantu sebagai penangkal terhadap serangan tikus itu muncul, setelah pihaknya bersama beberapa petani Pijay mendapat pelatihan sekaligus magang beberapa pekan di Kabupaten Demak-Jawa Timur beberapa waktu lalu. Fakta membuktikan, methoda seperti itu sangat efektif. Sementara menggunakan aliran listrik beresiko tinggi dan jika lengah nyawa melayang, papar Mahdi. (/serembinews)

LENSA

103826538.jpg71239959.jpgmanohara-sunset.jpgkantor pu.jpgpemandangan padi.jpg42271677.jpgmanohara-sun rise.jpgkuala merdu.jpgkantor dprk.jpgpantai kuthang.jpg88368709.jpgkantor bupati.jpg42295290.jpg65624315.jpgbappeda.jpg

LINTASAN SEJARAH

PETA LOKASI